[FLASH FICTION] ITU



“Di mana?”

Seketika Maya bangkit dari duduknya. Mata perempuan itu nyalang menyapu sekitar. Ruangannya gelap. Pengap. Sesak oleh tumpukan buku yang sebagian besar berdebu. Gelas-gelas berdebu—bekas minum yang tidak dia cuci, piring, plastik-plastik bekas camilan, semuanya terserak berantakan.

Maya bergegas membongkar barang-barang itu. Mengangkat dan meletakkannya kembali. Menyibak buku-buku dan kertas-kertas—membuatnya semakin berserak. Setiap sudut dia periksa. Membungkuk, mencari di bawah kursi, di bawah meja, di bawah rak…. Tak dapat dia temukan.

Perempuan berwajah tirus itu keluar dari ruangannya, meninggalkan layar berkedip-kedip dalam remang cahaya. Beberapa baris kalimat terlihat terpotong sebelum selesai di layar itu.

Maya menuju kamar. Suaminya terlelap.

Tak dibangunkannya. Dia mencari di laci, di bawah seprai, di bawah bantal…. Masih tak ditemukannya.

Maka, dia beranjak ke dapur. Ke ruang tamu. Ke kamar mandi.  Teras. Loteng. Barangkali itu ada di bufet. Atau, di wastafel. Atau mungkin, terselip di antara tumpukan piring, mangkuk, panci. Mungkin di dalam lemari. Maya mencari, terus mencari.

Detik jam terdengar kian keras. Malam kian menakur. Sunyi dalam perkusi; suara-suara malam justru menghadirkan nuansa sunyi. Tapi, Maya masih belum menemukan apa yang dicarinya. Dia harus tidur, pikirnya, kembali ke kamar dan merebahkan tubuh di samping suaminya. Dipandanginya wajah lelaki itu. Begitu tenang. Maya mencoba memejamkan mata. Percuma, dia tetap tak bisa terlelap.

Padahal, Maya pikir, mungkin saja itu ada di dalam mimpinya. Perempuan itu kesal. Menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhnya. Bagaimanapun, dia tetap tak dapat terlelap. Dia lelah, tapi pikirannya tak dapat teralihkan. Sepanjang malam dia terjaga. Di samping suaminya.

Ketika sang suami bangun esok paginya, Maya langsung memberondong lelaki itu dengan pertanyaan.

“Apa kau tahu di mana itu? Aku kehabisan, tak dapat kutemukan di mana pun. Di mana aku bisa menemukannya? Apa kau tahu di mana aku bisa menemukannya?”

Suaminya, lelaki penyabar yang selalu tersenyum, begitu terkejut. Tapi, lelaki itu mencoba menenangkan istrinya. “Apa maksudmu? Sayuran? Makanan?”

“Sayuran!” Maya bersorak. Dia menarik suaminya agar bangkit. “Ayo pergi ke sana! Pasti itu ada di sana!”

“Hei, hei, aku belum….”

Maya menarik lelaki itu. Dia begitu bersemangat. Tak diberinya kesempatan suaminya bahkan untuk sekadar mencuci muka. Ke pasar. Ke kebun. Bahkan supermarket. Dia seperti tak memiliki rasa lelah, meski sebenarnya lelah.

“Sudah kautemukan?”

“Belum!” Maya menggeleng. Menarik suaminya ke bukit. Menerawang langit. Menembus kabut. Menghirup aroma tanah berbasah embun. Maya terus melangkahkan kaki-kaki jenjangnya. Menarik suaminya agar berjalan lebih cepat.

Menunduk, perempuan ber-IQ di atas rata-rata itu mencari di setiap batu, setiap kerikil, setiap rumput. Apa yang dicarinya masih belum ditemukannya.

“Maya,” panggil sang suami, menahan lengan Maya. “Sebenarnya apa yang kaucari?”

Maya menoleh, menatap suaminya seolah tak percaya dengan pertanyaan lelaki bermata teduh itu. “Inspirasi,” katanya. “Memangnya apa lagi?!”


***

Hazuki Auryn
Negeri Bawah Angin, Rabu 30 Oktober 2013

Comments

Popular posts from this blog

[WRITING] 7 JENIS PARAGRAF PEMBUKA CERITA YANG MENARIK PEMBACA (DENGAN CONTOH)