Posts

Showing posts from December, 2017

[WRITING] MENYIASATI PENULISAN SETTING PADA FLASH FICTION

Image
pinterest Halo~ Sebagaimana kita bahas di post sebelumnya, Flash Fiction adalah cerita fiksi yang sangat singkat, dengan jumlah kata umumnya 200-500 kata. (Baca: Yuk, Ngomongin Flash Fiction! ) Dengan batasan jumlah kata itu, tentu akan sulit jika kita tidak bisa menyiasati agar cerita yang kita tulis bisa ringkas tanpa ada bagian-bagian yang hilang. Salah satu yang paling sulit adalah penggambaran setting (baik lokasi, waktu, atau pun suasana). Bayangkan saja jika dengan kuota kata yang sangat terbatas itu kita sampai menghabiskan 100 kata lebih hanya untuk menjelaskan setting. Ugh, pasti bakal kekurangan tempat untuk ceritanya sendiri. Untuk itu, kali ini kita akan membahas cara menyiasati penulisan setting pada Flash Fiction sehingga tidak melebihi batasan jumlah kata. Oh, ya, ini adalah cara versi saya, ya. Jadi, jika kalian merasa cara ini nggak sesuai dengan cara kalian, kalian boleh tidak mengikutinya. Saya hanya share berdasarkan pengalaman saya (yang s

[WRITING] BEDA CERITA BEDA DIKSI

Image
google image Salam~ 😇 Kalian pasti sudah tahu diksi , kan? Secara singkat, diksi adalah pilihan kata. Menurut KBBI, diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Diksi adalah kata serapan dari bahasa Inggris, diction yang artinya pemilihan dan penggunaan kata-kata dalam pidato atau tulisan (Oxford English Dictionary). Kata diction sendiri merupakan turunan dari bahasa Latin dicere yang artinya 'to say' alias berkata. Sesuai dengan penjelasan Wikipedia, salah satu fungsi diksi adalah agar orang yang membaca atau mendengar karya sastra menjadi lebih paham mengenai apa yang ingin disampaikan pengarang. Karena itu, diksi ini penting karena seperti pedang bermata dua. Artinya, salah memilih diksi justru bisa berdampak buruk terhadap tulisan. Diksi juga penting untuk menentukan panjang-pendek suatu kalimat. Selain itu, diksi juga berperan dalam

[FLASH FICTION] USAI PERJAMUAN

Image
google images: umbrella girl painting Seth mengusap bibirnya. Tergeletak di hadapannya, seorang gadis memejamkan mata dengan wajah pucat, tetapi tetap terlihat cantik. “Apa aku pernah berkata bahwa kau sangat cantik, Luna?” tanya pemuda itu kepada si gadis. Dia lalu mendongak. Di langit, rembulan menggantung sepekat darah. Dan, teriakan-teriakan memekakkan terdengar. Si pemuda lalu meraih gadis yang dia panggil Luna itu, membopongnya, membawanya—dengan beberapa lompatan jauh—ke sebuah rumah kecil. Memasuki rumah itu, Seth merebahkan Luna di ranjang satu-satunya yang ada di sana. Sebuah perapian kecil nyaris mati, Seth meletakkan beberapa batu bara, mengorek, dan meniupnya agar nyala kembali. Lalu, setelah menyelimuti tubuh Luna, pemuda itu duduk di samping si gadis. “Kuceritakan sebuah kisah,” katanya, mengelus rambut Luna. “Sebuah klan, dengan sesuatu yang berbeda dalam darah mereka. Jika yang lain hanya mendatangkan kematian pada masa perburuan, klan itu justru

[FLASH FICTION] SELAMAT TINGGAL, TEMANKU SAYANG!

Image
google images 'anime boy smirking' “Sudah saatnya.” “Eh?” Aku menoleh saat mendengar Seth bergumam. Seth mendongak. “Kau tahu? Saat bulan berwarna merah, para setan berpesta.” “Ah, mitos itu….” Aku ikut mendongak ke arah bulan. Purnama malam ini tidak secemerlang biasanya. Separuh bagian bulan berwarna jingga kemerahan. “Kau percaya?” “Kau bercanda?” Aku tergelak. “Itu hanya gerhana bulan,   terjadi karena bumi memiliki atmosf—” “Ya, ya, Kutu Buku.” Seth memotong. “Jangan kesal,” ujarku, menoleh menatapnya. “Kau tahu aku jenis orang yang tidak percaya hal-hal tidak ilmiah seperti itu.” Seth menoleh. Sesaat aku melihat matanya berkilat, sebelum dia kembali mendongak ke arah bulan. Aku terus menatapnya hingga beberapa kali embusan angin yang dingin menggoyangkan dedaunan. Kubetulkan posisiku dan bersandar pada batang pohon. Seth, yang duduk di cabang yang sama denganku, masih tenggelam dalam tatapannya pada bulan. Melihatnya terus diam seper

[FLASH FICTION] ANAK PURNAMA

Image
Lari. Lari. Lari!   Ayunkan kaki-kaki kebasmu sekuat tenaga, secepat yang kau bisa. Cepat. Cepat. Cepat!   Jangan menoleh, Bodoh! Bukan saatnya mem p erhatikan sekelilingmu. Tidak. Pohon-pohon keriput tua itu sudah ada di situ setiap hari. Kau tak perlu melambat karena ketakutan pada pepohonan yang setiap hari terlihat dari jendela kamarmu. Saat ini, kau hanya boleh takut pada purnama yang menggantung. Dan, perhatikan arahmu!   Lompat! Lompati setiap akar yang melintang. Hindari setiap ranting rendah yang menghadang. Rundukkan tubuh. Jangan keluar dari bayang-bayang. Perhatikan arahmu! Lari. Lari. Lari. Terus berlari.   Dengus napasmu serupa ikan terdampar di daratan. Keringatmu membanjir tapi kau tak perlu berhenti untuk mengelapnya. Tidak. Tak boleh berhenti. Kau mendengar itu? Degup jantungmu seolah hendak melontar keluar. Dan, keberanianmu pun tercerabut dari akarnya. Tercabik dan tercincang tanpa kau sanggup mengelak.   Kau berlari. Berl