Skip to main content

[FLASH FICTION] ANAK PURNAMA



Lari. Lari. Lari! 

Ayunkan kaki-kaki kebasmu sekuat tenaga, secepat yang kau bisa.

Cepat. Cepat. Cepat! 

Jangan menoleh, Bodoh!

Bukan saatnya memperhatikan sekelilingmu. Tidak. Pohon-pohon keriput tua itu sudah ada di situ setiap hari. Kau tak perlu melambat karena ketakutan pada pepohonan yang setiap hari terlihat dari jendela kamarmu. Saat ini, kau hanya boleh takut pada purnama yang menggantung. Dan, perhatikan arahmu! 

Lompat! Lompati setiap akar yang melintang. Hindari setiap ranting rendah yang menghadang. Rundukkan tubuh. Jangan keluar dari bayang-bayang. Perhatikan arahmu!

Lari. Lari. Lari. Terus berlari. 

Dengus napasmu serupa ikan terdampar di daratan. Keringatmu membanjir tapi kau tak perlu berhenti untuk mengelapnya. Tidak. Tak boleh berhenti.

Kau mendengar itu? Degup jantungmu seolah hendak melontar keluar. Dan, keberanianmu pun tercerabut dari akarnya. Tercabik dan tercincang tanpa kau sanggup mengelak. 

Kau berlari. Berlari. Melompat. Menerjang setiap semak, setiap ranting rendah dalam lindungan bayang-bayang muram.

Jantungmu terasa meledak saat auman itu sampai di telingamu. Dari suatu tempat di kejauhan. Suaranya menelan malam. Menyisakan gigil. Dan, kau merasakan telingamu sakit luar biasa. Seperti benang-benang tak kasat mata telah menjahitnya sedemikian rupa. Menariknya hingga memanjang melewati rambutmu
 


Tulang-tulangmu remuk. Berkeletak dan berlepasan. Membesar dan mengecil. Kau semakin panik. Kau limbung. Kedua kakimu melemas. Kau tersungkur. Terjatuh bertopang kedua tanganmu. Dan, bulu-bulu merobek pakaianmu. Kau mulai berderap. Atau, merangkak? Atau, justru berlari? Kau tak peduli lagi. Tak perlu peduli.

Kau terus berlari. Mengabaikan sakit saat wajahmu tertarik ke depan. Saat kedua matamu semakin menajam. Dan, gigi-gigimu memanjang. Saat ribuan bau menusuk hidungmu. Membuatmu limbung. Membuatmu bingung. Dan..., kuku-kuku tajam menyaruk-nyaruk tanah.

Kau mendesis. Kau menggeram. Dengus napasmu kian memburu. Memacu jantungmu berdetak lebih cepat. Kau takut. Sekaligus marah. Kau lapar. Kau haus. Kau melompat. Mengejar bau-bau. Memilahnya. Memilihnya. Bau yang manis. Aroma manis yang kauinginkan. 

Itu dia! Kau mendapatkannya. Kau menyambarnya. Meremukkannya. Melumatnya. Menarik lepas setiap bagian-bagiannya. Itu dia. Manis. Merah. Pekat. Menetes menggairahkan. Kau benci tapi kau ingin. Kau menikmati setiap sesapan.

Kau berteriak. Melolong menelan kelam. Kau kesal. Kau marah. Kau takut dan gelisah. Kau… telah meninggalkan bayang-bayang. Kau tertangkap. Kau terperangkap. Kau… Anak Purnama yang tersesat.

***
Hazuki Auryn 
Rabu, 24 April 2013
FF Terbaik PEDAS - Penulis dan Sastra

Comments

  1. Cita cita kita takan sabar lagi,
    Hanya pengusaha cinta kita yang
    Selalu sabar,
    Karena masi diusahakan untuk
    Masa depan,

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

[WRITING] 7 JENIS PARAGRAF PEMBUKA CERITA YANG MENARIK PEMBACA (DENGAN CONTOH)

Hallo there~ Kita berjumpa lagi~ 😃 Kali ini kita membahas tentang pembukaan sebuah cerita. 😃 Kalian tahu, paragraf pertama sebuah cerita ibaratnya display pada jendela toko. Bagaimana membuat display yang menarik sehingga pelintas (calon pembaca) berhenti dan membaca tulisan kita? Nah, tanpa banyak basa-basi, langsung saja kita bahas satu per satu. 😊 Ada 7 jenis paragraf pembuka cerita yang mampu menarik pembaca dalam sekali pandang, yaitu: 1. Cerita dibuka dengan sebuah action/kejadian. Perempuan itu datang saat matahari terbenam. Langit menggelap dengan semburat jingga di ufuk barat. Angin bertiup pelan dan burung-burung kembali ke sarang. Di punggungnya, seorang bocah laki-laki tertidur dengan kedua lengan erat memeluk leher perempuan itu. 2. Cerita dibuka dengan mengenalkan salah satu tokoh/karakter yang ada dalam cerita. Saat berusia sembilan tahun, adikku Maya memenangkan sebuah perlombaan melukis. Dia memang berbakat dalam melukis. Hingga

[WRITING] TEKNIK MENULIS SHOW DON'T TELL (DILENGKAPI CONTOH)

Salam~ Kita pasti sering mendengar teknik ini. Tapi, apa, sih, show don't tell itu? Secara harfiah, show berarti menunjukkan dan tell berarti memaparkan. source: http://visualcreatives.com Telling berarti kita hanya memaparkan, pembaca hanya membaca. Tidak ada interaksi antara pembaca dengan tulisan kita. Tidak ada ikatan. Sehingga, pada akhirnya tidak ada kemistri terjalin dan pembaca tidak dapat masuk/meresapi apa yang mereka baca. Akibatnya, bisa saja pembaca merasa bosan, tidak tertarik, bahkan tidak ingin melanjutkan membaca. Sebaliknya, showing berarti kita melibatkan pembaca. Kita menunjukkan dengan cara yang luwes sehingga pembaca dapat ikut membayangkan/merasakan apa yang dialami tokoh dalam cerita kita. Dengan begitu, akan terjalin ikatan dan pembaca pun dapat meresapi apa yang mereka baca. Teknik ini bagus untuk membuat agar pembaca terus melanjutkan membaca. Baca: Flash Fiction - ITU Flash Fiction - MERPATI PUTIH Contoh narasi te

[WRITING] PENGERTIAN DAN CONTOH FLASH FICTION

Flash Fiction atau yang biasa disingkat FF (bukan fanfic, ya!) merupakan cerita pendek super singkat yang panjang umumnya sekitar 200-500 kata. Saking pendeknya, sebuah FF bisa dibaca habis (selesai) dalam waktu kurang dari lima menit. Atau, seperti kutipan pada gambar di atas: cerita yang selesai kamu baca sebelum kopimu dingin. FF berbeda dengan cerpen apalagi novel. Jika sebuah fiksi (cerpen atau novel) punya tahapan perkenalan, konflik, klimaks, anti-klimaks, dan penyelesaian, dalam FF hanya ada konflik dan klimaks . Sesuai dengan pengertiannya, unsur dalam FF yaitu singkat, padat, dan twisted ending . Bentuk FF yang singkat dan padat itu berimbas pada penceritaan penggambaran setting terutama lokasi, yang pada FF dibuat sedemikian rupa sehingga tidak memakan banyak ‘kuota kata’. Dan, untuk membuat sebuah FF berkesan, twisted ending berperan penting di sini. Secara harfiah, twisted ending berarti akhir cerita yang dipelintir atau diputar. Maksudnya, akhir yang