Skip to main content

[FLASH FICTION] [PURPLE PROSE] KAMU DAN MALAM



Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Angin mengembus dingin, mendesau-desau menghadirkan gigil. Tak terlalu menggigit untuk bisa mengoyak jaring laba-laba di reranting yang kehilangan daunnya. Namun, cukup anggun untuk melagukan tembang kelam serupa kematian.

Kamu berdiri di puncak menara. Matamu muram dibengkalai kehidupan. Kamu pandangi kabut yang bekerlip resah dalam pucat kelindan malam. Kamu sesap setiap rasa setiap aroma perkusi malam.

Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Sesorah serigala ramai menghujat purnama. Ah, benar. Setiap malam adalah purnama. Mereka—serigala dan purnama—serupa anak-anak yang tersesat. Berkeliaran menerobos ambang waktu. Atau, justru kamu yang terperangkap?

Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Atau, sebelumnya. Atau, sebelum sebelumnya. Atau bahkan, sebelum sebelumnya sebelumnya lagi. Kamu melangkahkan kaki-kaki pucatmu melewati batas tepi. Di puncak menara kamu mengundang sunyi. Dan, dingin malam menyambutmu serupa saltasi. Merengkuhmu dan menghantarmu secepat ilusi. Menyibak angin menyeruak kabut. Dingin tanah lembap berserak dedaunan kering mengecupmu lembut.

Kamu nyalang. Menantang jendela-jendala kelam yang menatapmu nanar. Tubuhmu membeku. Asin. Merah pekat itu memoles pipimu yang menyatu dengan tanah dan dedaunan. Menyentuh bibir ranummu dan mewarnainya serupa gincu. Memahkotai kepalamu seperti diadem menyelip di antara rambutmu.

Kastel tua itu mengabur, dalam pandanganmu yang kian menakur. Kamu merasa kelopak matamu mulai berat. Berselimut kabut dan dendang angin, kamu memejamkan mata. Akhirnya....

Kamu tersenyum. Dipeluk purnama, kamu terlelap. Dan, esok... ketika purnama menggelayuti langit muram, kamu akan terbangun, lagi, seperti malam-malam sebelumnya, dalam kamarmu yang bertilam putih bertabur mawar semerah luka. Dan, seperti malam-malam sebelumnya, kamu akan menggapai puncak menara. Dan, sekali lagi, angin dingin dan kabut basah akan merengkuhmu. Dan, kamu terus bertanya-tanya, masihkah kamu manusia?

***
Hazuki Auryn, 08 Mei 2013
FF di atas termasuk kategori Purple Prose. Selengkapnya mengenai Purple Prose, baca di sini:
Prosa Ungu: Pengertian dan Contoh


Dalam bentuk biasa tulisan di atas akan seperti ini:
👇👇👇👇👇
Seperti biasanya, malam itu angin dingin berembus. Kamu berdiri di puncak menara, menatap kosong pada kabut. Di kejauhan, terdengar serigala melolong sementara bulan purnama tampak pucat di langit. Kemudian, seperti biasanya, kamu melangkah ke tepi menara dan melompat. Jatuh. Jatuh. Dan, tubuhmu berhenti meluncur saat mencapai tanah. Matamu terbuka lebar, menatap ke arah jendela kastel yang tampak kelam. Darah mengalir dari kepalamu. Kemudian, kamu merasa matamu makin berat hingga kamu memejamkannya. Dan, begitu membuka mata esok, kamu akan mendapati dirimu tertidur di kamar yang sama, dan kembali melakukan hal yang sama. Dan, kamu pun bertanya-tanya, masihkah kamu manusia?
 👆👆👆👆👆

Comments

  1. Keren banget ka, kata2nya yang di atas.

    Gimana caranya kak, biar show kita bener-bener jalan. Sampai bener-bener kebayang jelas di kepala? Adakah tips tertentu?

    #ngefans bgt ama kk ana. 😍😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih.... ^^
      Itu purple prose, tidak terlalu disarankan dalam tulisan.

      Delete
    2. kalau diselipkan dalam fantasi gimana? saya punya stori purple prose tapi hanya di beberapa bagian untuk menonjolkan suatu adegan yang intens. jujur, banyak reader yang protes karena tak paham, tapi tanpa purple prose, beberapa tulisan akan terasa hambar

      Delete
    3. Selama diolah dengan baik, insyaallah hasilnya akan oke, kok.^^

      Delete
  2. Diksi dan rimanya asyik, saya jadi terhanyut dan ini sangat twist ending.

    ReplyDelete
  3. Makasih kakak,sangat membuka wawasan,aku sedang mulai ikut kelas literasi,tugas awal udah bikin 2cerpen,rupanya keduanya prosa ungu,astagaaa....semoga bisa keluar dari zona itu,bahaya ya kak buat buat pemula?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya tidak apa-apa, Kak, menulis prosa ungu. Terima kasih sudah berkunjung. ^^

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

[WRITING] 7 JENIS PARAGRAF PEMBUKA CERITA YANG MENARIK PEMBACA (DENGAN CONTOH)

Hallo there~ Kita berjumpa lagi~ 😃 Kali ini kita membahas tentang pembukaan sebuah cerita. 😃 Kalian tahu, paragraf pertama sebuah cerita ibaratnya display pada jendela toko. Bagaimana membuat display yang menarik sehingga pelintas (calon pembaca) berhenti dan membaca tulisan kita? Nah, tanpa banyak basa-basi, langsung saja kita bahas satu per satu. 😊 Ada 7 jenis paragraf pembuka cerita yang mampu menarik pembaca dalam sekali pandang, yaitu: 1. Cerita dibuka dengan sebuah action/kejadian. Perempuan itu datang saat matahari terbenam. Langit menggelap dengan semburat jingga di ufuk barat. Angin bertiup pelan dan burung-burung kembali ke sarang. Di punggungnya, seorang bocah laki-laki tertidur dengan kedua lengan erat memeluk leher perempuan itu. 2. Cerita dibuka dengan mengenalkan salah satu tokoh/karakter yang ada dalam cerita. Saat berusia sembilan tahun, adikku Maya memenangkan sebuah perlombaan melukis. Dia memang berbakat dalam melukis. Hingga

[WRITING] TEKNIK MENULIS SHOW DON'T TELL (DILENGKAPI CONTOH)

Salam~ Kita pasti sering mendengar teknik ini. Tapi, apa, sih, show don't tell itu? Secara harfiah, show berarti menunjukkan dan tell berarti memaparkan. source: http://visualcreatives.com Telling berarti kita hanya memaparkan, pembaca hanya membaca. Tidak ada interaksi antara pembaca dengan tulisan kita. Tidak ada ikatan. Sehingga, pada akhirnya tidak ada kemistri terjalin dan pembaca tidak dapat masuk/meresapi apa yang mereka baca. Akibatnya, bisa saja pembaca merasa bosan, tidak tertarik, bahkan tidak ingin melanjutkan membaca. Sebaliknya, showing berarti kita melibatkan pembaca. Kita menunjukkan dengan cara yang luwes sehingga pembaca dapat ikut membayangkan/merasakan apa yang dialami tokoh dalam cerita kita. Dengan begitu, akan terjalin ikatan dan pembaca pun dapat meresapi apa yang mereka baca. Teknik ini bagus untuk membuat agar pembaca terus melanjutkan membaca. Baca: Flash Fiction - ITU Flash Fiction - MERPATI PUTIH Contoh narasi te

[WRITING] CARA MENENTUKAN JUDUL YANG MENARIK (DAN CONTOH)

Judul ibaratnya sebuah jendela. Dari jendela, dapat terlihat apa yang ada di dalam rumah. Dan, tentu saja, judul yang baik adalah judul yang mampu membuat "calon pembaca" tak sekadar melirik, tapi juga berhenti untuk membaca karya kita. Karena itu, judul cukup penting untuk sebuah karya. Untuk kalian yang memberikan judul "setelah" sebuah tulisan selesai dibuat, sebaiknya memperhatikan ini: #Satu Perhatikan tulisan yang sudah dibuat: Itu membicarakan apa? Fokus atau pokok permasalahan yang disoroti dalam tulisan itu apa? Dari situ, buatlah judul yang sekiranya mampu menarik pembaca. #Dua Hal yang perlu diperhatikan dalam membuat judul, selain EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) dan tanda baca, judul yang bagus adalah judul yang membuat pembaca berhenti dan "melihat" ke arahnya. Judul seperti ini memiliki kekuatan untuk "mengajak" pembaca "mampir". Bagaimana membuat judul yang menarik? Karena saya pribadi tidak memil