Skip to main content

[WRITING] CARA MENULIS "SHOW DON'T TELL" YANG SEIMBANG

Dulu, saya pernah menulis artikel tentang “show don’t tell”, bisa dibaca di sini.

Ternyata, banyak teman yang kebablasan mempraktikkannya.

Bablas bagaimana? Jadi, teman-teman ini cenderung berlebihan dalam menggunakan teknik “showing” untuk penulisan cerita mereka. Hasilnya? Tentu saja kurang bagus, terkesan (sangat) bertele-tele dan lambat. Akhirnya, pembaca menjadi bosan.

Oleh karena itu, artikel ini saya tulis untuk melengkapi artikel tersebut.

Showing (Gambar oleh Juraj Varga dari Pixabay)

Menyeimbangkan teknik penulisan “Show Don’t Tell”

Bagaimana agar cara bertutur kita bisa seimbang antara “telling” dan “showing”?

Ada 4 tips dasar:

1. Teknik “telling” untuk eksposisi

Eksposisi berarti uraian atau paparan cerita. Dalam sastra, ini biasanya digunakan untuk menerangkan tokoh, latar, atau masa lalu tokoh yang diceritakan sekilas. Teknik “telling” bisa digunakan di sini.

Contoh:
Ayahnya meninggal dua puluh tahun yang lalu. Saat itu dia masih berusia empat tahun, ayahnya pergi bersama pasukan untuk berperang. Perang berlangsung selama empat bulan, tetapi ayahnya tidak pernah kembali.

2. Teknik “telling” untuk mempercepat pace cerita

Teknik “telling” juga bisa digunakan untuk mengatur pace atau kecepatan cerita. Ini biasanya digunakan untuk mencegah pembaca merasa bosan karena jika dijabarkan per adegan akan menjadi sangat lama. Penggunaan teknik “telling” di sini juga berfungsi mencegah plot dari tidak bergerak, sebab jika menceritakan kegiatan-kegiatan tokoh secara detail di bagian ini akan membuat plot seolah-olah tidak bergerak.

Contoh:
Mereka melanjutkan perjalanan ke selatan. Butuh waktu empat hari untuk sampai di perbatasan, dan dua hari lagi untuk sampai di rumah sang guru.

3. Mencampurkan antara “telling” dan “showing” untuk menciptakan efek gelombang

Siapa bilang teknik “telling” dan “showing” tidak boleh digunakan bersamaan? Justru boleh banget.

Contoh:
Dia marah. Sangat marah. Rahangnya mengeras, matanya merah dan menatap tajam, bibirnya mengatup rapat. Dengan tangan mengepal, dia mendekati gadis itu dan berhenti tepat di hadapan si gadis.

“Jangan berani-berani,” desisnya kasar, “bicara tentang ayahku.”

Bagian “dia marah” dan “sangat marah” menggunakan “telling”, sedangkan kalimat-kalimat selanjutnya menggunakan “showing”. Kedua teknik penceritaan ini digunakan dalam satu waktu untuk menciptakan efek gelombang.

4. Memangkas kata-kata “filler” agar tidak terkesan bertele-tele dalam “showing”

Secara harfiah, “filler” berarti isian. Maksudnya di sini adalah kata-kata yang jika dihapus pun tidak akan mengubah makna kalimat secara keseluruhan. Di sini kita bisa menghapus saja kata-kata “filler” tersebut dan membiarkan kalimatnya seperti apa adanya, atau bisa juga dengan mengubah susunan kalimat.

Contoh jika hanya menghapus “filler”:
Gadis (yang) berbaju kuning itu (adalah) adikku.
Aku (merasa) sedih (karena) mendengar ceritanya.

Contoh jika mengubah kalimat:
A: Dia duduk di tempat duduk yang ada di sampingnya.
B: Dia menduduki kursi di sampingnya.


Itulah 4 tips dasar agar menulis “show don’t tell” bisa seimbang, tidak berlebihan “showing” sehingga membuat cerita terkesan bertele-tele, tidak pula berlebihan “telling” sehingga terasa seperti membaca laporan berita. Meski demikian, hasil akhirnya tergantung praktik masing-masing penulis.

Baiklah, sampai di sini dulu, ya. Jika kamu memiliki masukan atau pertanyaan, jangan ragu untuk menyampaikan di kolom komentar. Terima kasih sudah mampir, semoga bermanfaat!

PS:
Barangkali kalian suka membaca cerita fantasi remaja, boleh mampir ke tulisan terbaru saya yang berjudul The Mirror di NovelToon. Di sana, saya juga mempraktikkan 4 tips dasar di atas, lho. Baca, ya! Lalu, bagikan pendapat kalian. 😇


Comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Assalamualaikum, kak nomor 4 aku gak ngerti 😌

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikum salam, maaf baru balas.
      Nomor 4 maksudnya contoh pertama itu dihapus bagian yang dalam kurung.
      Nanti coba saya perbaiki penyampaiannya di artikel, ya. 😄

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

[WRITING] 7 JENIS PARAGRAF PEMBUKA CERITA YANG MENARIK PEMBACA (DENGAN CONTOH)

Hallo there~ Kita berjumpa lagi~ 😃 Kali ini kita membahas tentang pembukaan sebuah cerita. 😃 Kalian tahu, paragraf pertama sebuah cerita ibaratnya display pada jendela toko. Bagaimana membuat display yang menarik sehingga pelintas (calon pembaca) berhenti dan membaca tulisan kita? Nah, tanpa banyak basa-basi, langsung saja kita bahas satu per satu. 😊 Ada 7 jenis paragraf pembuka cerita yang mampu menarik pembaca dalam sekali pandang, yaitu: 1. Cerita dibuka dengan sebuah action/kejadian. Perempuan itu datang saat matahari terbenam. Langit menggelap dengan semburat jingga di ufuk barat. Angin bertiup pelan dan burung-burung kembali ke sarang. Di punggungnya, seorang bocah laki-laki tertidur dengan kedua lengan erat memeluk leher perempuan itu. 2. Cerita dibuka dengan mengenalkan salah satu tokoh/karakter yang ada dalam cerita. Saat berusia sembilan tahun, adikku Maya memenangkan sebuah perlombaan melukis. Dia memang berbakat dalam melukis. Hingga

[WRITING] TEKNIK MENULIS SHOW DON'T TELL (DILENGKAPI CONTOH)

Salam~ Kita pasti sering mendengar teknik ini. Tapi, apa, sih, show don't tell itu? Secara harfiah, show berarti menunjukkan dan tell berarti memaparkan. source: http://visualcreatives.com Telling berarti kita hanya memaparkan, pembaca hanya membaca. Tidak ada interaksi antara pembaca dengan tulisan kita. Tidak ada ikatan. Sehingga, pada akhirnya tidak ada kemistri terjalin dan pembaca tidak dapat masuk/meresapi apa yang mereka baca. Akibatnya, bisa saja pembaca merasa bosan, tidak tertarik, bahkan tidak ingin melanjutkan membaca. Sebaliknya, showing berarti kita melibatkan pembaca. Kita menunjukkan dengan cara yang luwes sehingga pembaca dapat ikut membayangkan/merasakan apa yang dialami tokoh dalam cerita kita. Dengan begitu, akan terjalin ikatan dan pembaca pun dapat meresapi apa yang mereka baca. Teknik ini bagus untuk membuat agar pembaca terus melanjutkan membaca. Baca: Flash Fiction - ITU Flash Fiction - MERPATI PUTIH Contoh narasi te

[WRITING] PENGERTIAN DAN CONTOH FLASH FICTION

Flash Fiction atau yang biasa disingkat FF (bukan fanfic, ya!) merupakan cerita pendek super singkat yang panjang umumnya sekitar 200-500 kata. Saking pendeknya, sebuah FF bisa dibaca habis (selesai) dalam waktu kurang dari lima menit. Atau, seperti kutipan pada gambar di atas: cerita yang selesai kamu baca sebelum kopimu dingin. FF berbeda dengan cerpen apalagi novel. Jika sebuah fiksi (cerpen atau novel) punya tahapan perkenalan, konflik, klimaks, anti-klimaks, dan penyelesaian, dalam FF hanya ada konflik dan klimaks . Sesuai dengan pengertiannya, unsur dalam FF yaitu singkat, padat, dan twisted ending . Bentuk FF yang singkat dan padat itu berimbas pada penceritaan penggambaran setting terutama lokasi, yang pada FF dibuat sedemikian rupa sehingga tidak memakan banyak ‘kuota kata’. Dan, untuk membuat sebuah FF berkesan, twisted ending berperan penting di sini. Secara harfiah, twisted ending berarti akhir cerita yang dipelintir atau diputar. Maksudnya, akhir yang